Biro Iklan Tangerang Selatan

Biro Iklan Tangerang Selatan
Jual Beli Peralatan Restoran : Meja Stainlrss, sink Stainless, Kwali Range, Chiller, Freezer, Showscase, undercounter, upright, deep feyer, hood dan lainnya . hubungi aulia advertising production 085711686716.

Iklan On line

Iklan On line
Pasang Iklan Anda Disini

Ketika Nyawa Direduksi Menjadi Angka: Catatan atas Pernyataan Presiden soal Keracunan MBG

Aktivitas siswa sekolah saat menerima dan menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di ruang kelas. Program ini bertujuan meningkatkan asupan gizi anak, namun insiden dugaan keracunan makanan memicu sorotan publik terhadap standar keamanan pangan dan pengawasan distribusi.


 

Ketika Nyawa Direduksi Menjadi Angka: Catatan atas Pernyataan Presiden soal Keracunan MBG

Pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut angka keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) “masih manusiawi” karena hanya sekitar 0,0007 persen memantik kegelisahan publik. Bukan semata soal persentase, melainkan soal cara pandang terhadap nyawa manusia.

Angka, betapapun kecilnya, tidak pernah netral ketika di baliknya terdapat manusia yang menderita. Bahkan jika satu orang saja mengalami keracunan, itu bukan sekadar statistik. Ia adalah manusia, anak dari seseorang, warga negara yang hak dasarnya—atas keamanan dan kesehatan—harus dijamin negara.

Logika persentase kerap digunakan dalam manajemen risiko. Namun, ketika logika itu diucapkan oleh seorang kepala negara dalam konteks keselamatan rakyatnya, publik berhak bertanya: di mana empatinya? Ribuan kasus keracunan tidak bisa diputihkan hanya dengan pembagian angka dan persentase. Rasa sakit, trauma, bahkan potensi kehilangan nyawa tidak pernah “mengecil” hanya karena dibingkai dalam hitungan matematis.

Program MBG sejatinya membawa misi mulia: memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan tercukupi gizinya. Justru karena itu, standar keamanannya harus nol toleransi. Menyebut dampak buruk sebagai “masih manusiawi” berisiko menormalisasi kelalaian dan mengaburkan tanggung jawab negara untuk melakukan evaluasi menyeluruh—mulai dari rantai pasok, higienitas dapur, hingga pengawasan distribusi.

Kepemimpinan bukan hanya soal efisiensi dan angka keberhasilan, tetapi juga bahasa empati. Dalam isu yang menyentuh kesehatan dan keselamatan publik, kata-kata pemimpin menentukan arah kebijakan dan kepercayaan rakyat. Rakyat tidak menuntut kesempurnaan, tetapi mereka menuntut kesungguhan dan kepekaan.

Pada akhirnya, nyawa manusia tidak pernah—dan tidak boleh—dipersempit menjadi angka. Negara ada untuk melindungi setiap warganya, bukan untuk menenangkan kegelisahan publik dengan persentase.




#MakanBergiziGratis
#KeracunanMBG
#PrabowoSubianto
#KebijakanPublik
#KesehatanAnak
#KeamananPangan
#HakWargaNegara
#OpiniPublik
#BeritaNasional

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ketika Nyawa Direduksi Menjadi Angka: Catatan atas Pernyataan Presiden soal Keracunan MBG"

Posting Komentar