Biro Iklan Tangerang Selatan

Biro Iklan Tangerang Selatan
Jual Beli Peralatan Restoran : Meja Stainlrss, sink Stainless, Kwali Range, Chiller, Freezer, Showscase, undercounter, upright, deep feyer, hood dan lainnya . hubungi aulia advertising production 085711686716.

Iklan On line

Iklan On line
Pasang Iklan Anda Disini

Mereka Tidak Pernah Lupa, Tapi Kita Justru Melupakan

 

Ist

Mereka Tidak Pernah Lupa, Tapi Kita Justru Melupakan

Tulisan Ustadz Fatih Karim menyentak kesadaran kita tentang satu fakta pahit dalam sejarah: luka peradaban tidak pernah benar-benar sembuh bagi mereka yang merasa pernah kalah, sementara pihak yang pernah berjaya justru perlahan melupakan maknanya.

Narasi tentang tindakan simbolik para jenderal Barat pada masa Perang Dunia I bukan sekadar cerita emosional, melainkan pesan sejarah yang sarat makna psikologis dan ideologis. Ketika Komandan Yunani Sophocles menendang makam Sultan Osman Ghazi di Bursa, itu bukan tindakan spontan, melainkan simbol kemenangan atas sebuah peradaban yang pernah menguasai wilayah luas dan menjadi pusat kekuatan dunia Islam. Makam bukan hanya batu, tetapi lambang kejayaan, identitas, dan kesinambungan sejarah.

Hal serupa terjadi ketika Jenderal Prancis Henri Gouraud mendatangi makam Shalahuddin Al-Ayyubi (Saladin) di Damaskus dan berkata, “Kita di sini lagi, Saladin!” Kalimat ini menegaskan bahwa Perang Salib dalam ingatan Barat tidak pernah benar-benar berakhir, hanya berganti bentuk, metode, dan panggung. Dari pedang menjadi politik, dari benteng menjadi narasi, dari penjajahan fisik menjadi dominasi pemikiran.

Pernyataan Jenderal Inggris Edmund Allenby saat memasuki Yerusalem—“Sekarang baru Perang Salib berakhir”—menjadi klimaks dari pesan tersebut. Yerusalem bukan kota biasa; ia adalah simbol iman, sejarah, dan peradaban. Ucapan itu menunjukkan bahwa sejarah bagi mereka adalah memori hidup, diwariskan lintas generasi, dijaga sebagai misi yang belum selesai.

Sebaliknya, Ustadz Fatih Karim menyoroti ironi besar di pihak umat Islam. Kita justru melupakan sejarah kita sendiri. Kita melupakan bahwa peradaban pernah dibangun dengan ilmu, akhlak, persatuan, dan keberanian. Kita melupakan bahwa kejayaan tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari pengorbanan dan visi besar. Yang tersisa sering kali hanya romantisme tanpa pemahaman, kebanggaan tanpa tanggung jawab.

Tulisan ini bukan ajakan kebencian, melainkan peringatan keras agar umat tidak tercerabut dari akar sejarahnya. Melupakan sejarah berarti kehilangan identitas. Dan umat yang kehilangan identitas akan mudah dipecah, dikendalikan, dan dilemahkan.

“Berjuang kembali” dalam konteks ini bukan semata-mata angkat senjata, tetapi berjuang membangun kesadaran:

  • Berjuang melalui ilmu dan pendidikan

  • Berjuang melalui persatuan umat

  • Berjuang melalui ekonomi yang mandiri

  • Berjuang melalui akhlak dan integritas

Ustadz Fatih Karim mengingatkan bahwa musuh peradaban tidak pernah berhenti membaca sejarah, sementara kita berhenti mempelajarinya. Mereka menjaga dendam sejarah sebagai bahan bakar perjuangan, sementara kita membiarkan sejarah menjadi sekadar cerita masa lalu.

Pesan akhirnya jelas dan menggugah:
Jika kita terus lupa, maka kita akan terus mengulang kekalahan.
Jika kita ingin bangkit, maka ingatan, kesadaran, dan perjuangan harus dihidupkan kembali—dengan cara yang cerdas, bermartabat, dan beradab.






#Sejarah #PerangSalib #Ottoman #Islam #SejarahIslam #PerangDunia

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mereka Tidak Pernah Lupa, Tapi Kita Justru Melupakan"

Posting Komentar